Trouble is a friend

Tahun pertama dan kedua di Hong Kong adalah tahun tersulit bagi saya. Kala itu anak-anak yang saya asuh masih bayi. Hari-hari saya hanya berkisar seputar, popok bayi, gendongan, dan botol susu.

Kedua orang tuanya yang sibuk bekerja membuat saya harus 100% total merawat mereka. Kalau sebagian keluarga di Hong Kong, ketika anaknya melahirkan, orang tua dari pihak pria maupun wanita pasti akan turun langsung. Merawat cucu mereka dan membiarkan anaknya kembali ke meja kerja.

Tapi situasi itu tidak berlaku bagi saya. Orang tua dari majikan perempuan saya tinggal di London. Sementara orang tua dari majikan pria, tinggal di Fu Chien, China. Apa ada saudara, adik, kakak atau sepupu? Jawabnya: tidak ada!

Meski begitu, saya tidak merasa itu suatu beban. Saya melaksanakan kewajiban saya atas dua bayi itu dengan sebenar-benarnya. Mengganti popok, membuatkan susu, memandikan, mencuci baju dan menidurkan mereka. Semua saya lakukan sendiri.

Ribut-ribut kecil pernah terjadi antara saya dan majikan. Yah biasalah, namanya hubungan kerja. Terkadang saya dan majikan, terutama yang perempuan bisa akur layaknya kakak adik. Tapi tak jarang kami bersitegang seperti menantu dan mertua.

Masalahnya sepele! Dia, memiliki rasa cemburu yang besar. Seiring pertumbuhan kedua anak itu, mereka cenderung lebih dekat dengan saya. Acapkali keduanya menolak untuk digendong, disuapi, dimandikan dan sebagai nya. Kalau sudah begitu, si ibu naik pitam. Mencak-mencak berkacak pinggang sambil ceramah A sampai Z.

Bagaimana cara saya menghadapi emosi dia? Santai, rileks dan tetep tersenyum. Tak ada bosan-bosannya saya meyakinkan dia. Bahwa ini tak akan berlaku selamanya. Anak-anak punya naluri. Kalaupun sekarang mereka lebih dekat ke saya dan seolah mengabaikan ibunya, bukan berarti ini ancaman.

Bak anak SMP yang membutuhkan konseling, tiap malam setelah anak-anak tidur saya selalu membujuk dia. Di ruang kerja sambil membawa segulung tissu saya berusaha hentikan isak tangisnya.

'Its not fair! I gave birth to them! Since you came, I feel so useless. I cant look after my own children. You've took over them! I hate it! "

Dia meracau, meraung-raung sejadi-jadinya. Saya membiarkannya begitu. Sesekali saya robek dua atau tiga bagian lembar tissu. Saya letakkan dekat wajahnya yang menelungkup di atas meja. Saya hanya bisa menunggunya berhenti menangis.

Butuh waktu setidaknya satu jam melakukan itu. Bila dia mulai menangis jam 1 maka jam dua dia selesai. Dan ketika dia selesai meluapkan emosinya dia akan bertanya kepada saya; "What's wrong with me?"

"Nothing..Its really nothing wrong with you. Everything will be fine. You're just need to be patient. Just relax and trust me! I'll help you with it!"

That's it!
Cukup itu yang saya katakan padanya. Dan itu saya lakukan berulang-ulang, selama bertahun-tahun. Pheww..! Capek? Hmm.. Biasa aja sih. Hehehe..

Itu sedikit cerita tentang manajemen hati dan emosi selama kerja sama majikan di Hong Kong. Well, bukan persoalan besar. Buat saya, selama masih bisa memenuhi batas toleransi saya akan tetap bertahan. Pokoknya buat saya, 'trouble is a friend'.

Walhasil, saya benar-benar bertahan di satu majikan selama masa kerja 6 tahun di Hong Kong. Buat saya itu sudah prestasi tersendiri. Sudah wujud anugrah besar dari Allah SWT. Diantara ratusan kasus kekerasan fisik yang dilakukan majikan di sana, saya termasuk yang amat beruntung.

Tak pernah bermasalah dengan gaji yang tak terbayar, fasilitas sandang, pangan, papan dan hak- hak yang lain yang selayaknya saya terima. Termasuk hari libur dan uang lembur. Alhamdulillah..









Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dragon Boat Festival

Sisi Mistik dari Bride's Pool si Air Terjun Pengantin

IPS KELAS 6 SEMESTER 1 - BAB 1 - SISTEM ADMINISTRASI INDONESIA