Pendidikan Anak Usia Dini di Hong Kong
Cerita demi cerita senantiasa mengalir seiring bertambahnya masa kerja saya di Hong Kong. Anak-anak yang saya asuh tumbuh sehat, lucu, dan cerdas.
Amazingly, hubungan batin antara saya dan mereka juga semakin kuat. Buat saya mereka adalah buah hati titipan Tuhan yang harus saya sayangi dan saya jaga seakan-akan anak-anak itu lahir dari rahim saya.
Moment terindah yang saya alami bersama mereka adalah tatkala mereka mulai memasuki bangku sekolah. Anda mungkin tak akan percaya kalau saya bilang, bahwa Curtis mulai masuk bangku sekolah ketika ia berumur 1 tahun.
Dengan sehelai 'sling' atau gendongan bayi, saya membawanya ke sekolah. Sebuah sekolah untuk anak usia dini. Di sana disebut sebagai Nursery atau pre-School. Pada saat yang bersamaan, Ibunya berbagi tugas dengan saya membawa Chloe, si kakak ke satu Nursery yang berbeda.
Saya senantiasa mengambil sisi baik dari semua perjalanan hidup yang saya lewati. Begitu pula ketika saya mendapat tugas untuk menemani anak-anak itu di sekolah. Saya selalu mencermati teknik dan trik para guru itu dalam mendidik anak-anak usia dini itu.
Secara nalar, terasa tak masuk akal membawa anak-anak yang lebih pas disebut sebagai bayi itu ke sekolah. Namun prakteknya itu bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Dibutuhkan tenaga-tenaga pengajar yang memiliki kemampuan khusus. Mampu mengendalikan gerak anak-anak kecil yang cepat dan serba spontan. Dari pengamatan saya, kedisiplinan, ketelatenan, perhatian serta kasih sayang adalah modal utama guru-guru itu sukses mendidik 'bayi-bayi' di sana.
Sebetulnya ada banyak sekali foto suasana belajar dan mengajar di kelas Nursery yang ingin saya bagikan. Hanya saja foto-foto itu banyak tersimpan di dalam SD card dari kamera digital. Kendalanya di sini, satu-satunya laptop yang saya miliki rusak. Kenyataan ini membuat saya tak bisa lagi menulis untuk sekedar meng-update blog ini.
Untung saja saya masih memiliki telepon genggam yang sudah dilengkapi aplikasi dari Blogger. Dengan demikian saya masih bisa mempunyai kesempatan untuk melanjutkan cerita ini. Sayangnya, foto-foto yang akan mendukung cerita saya ini terkesan kurang lengkap karena memang sebagian besar ada di SD card. :(
Amazingly, hubungan batin antara saya dan mereka juga semakin kuat. Buat saya mereka adalah buah hati titipan Tuhan yang harus saya sayangi dan saya jaga seakan-akan anak-anak itu lahir dari rahim saya.
Moment terindah yang saya alami bersama mereka adalah tatkala mereka mulai memasuki bangku sekolah. Anda mungkin tak akan percaya kalau saya bilang, bahwa Curtis mulai masuk bangku sekolah ketika ia berumur 1 tahun.
Dengan sehelai 'sling' atau gendongan bayi, saya membawanya ke sekolah. Sebuah sekolah untuk anak usia dini. Di sana disebut sebagai Nursery atau pre-School. Pada saat yang bersamaan, Ibunya berbagi tugas dengan saya membawa Chloe, si kakak ke satu Nursery yang berbeda.
Saya senantiasa mengambil sisi baik dari semua perjalanan hidup yang saya lewati. Begitu pula ketika saya mendapat tugas untuk menemani anak-anak itu di sekolah. Saya selalu mencermati teknik dan trik para guru itu dalam mendidik anak-anak usia dini itu.
Secara nalar, terasa tak masuk akal membawa anak-anak yang lebih pas disebut sebagai bayi itu ke sekolah. Namun prakteknya itu bukanlah hal yang sulit dilakukan.
Dibutuhkan tenaga-tenaga pengajar yang memiliki kemampuan khusus. Mampu mengendalikan gerak anak-anak kecil yang cepat dan serba spontan. Dari pengamatan saya, kedisiplinan, ketelatenan, perhatian serta kasih sayang adalah modal utama guru-guru itu sukses mendidik 'bayi-bayi' di sana.
Sebetulnya ada banyak sekali foto suasana belajar dan mengajar di kelas Nursery yang ingin saya bagikan. Hanya saja foto-foto itu banyak tersimpan di dalam SD card dari kamera digital. Kendalanya di sini, satu-satunya laptop yang saya miliki rusak. Kenyataan ini membuat saya tak bisa lagi menulis untuk sekedar meng-update blog ini.
Untung saja saya masih memiliki telepon genggam yang sudah dilengkapi aplikasi dari Blogger. Dengan demikian saya masih bisa mempunyai kesempatan untuk melanjutkan cerita ini. Sayangnya, foto-foto yang akan mendukung cerita saya ini terkesan kurang lengkap karena memang sebagian besar ada di SD card. :(



Komentar
Posting Komentar